Monday, March 12, 2012

R.A. Kartini: Ketika Surat Menjadi Alat Perjuangan


R.A. Kartini: Ketika Surat Menjadi Alat Perjuangan
Oleh Tri Darma Yudha Pirhot

Raden Adjeng Kartini adalah seorang wanita dari kelas bangsawan Jawa, putri Raden Mas Adipati Arya Sasraningrat, bupati Jepara. Ayahnya dikenal sebagai salah seorang bupati Jawa yang paling maju.[1] Karena faktor ini, Kartini diperbolehkan untuk Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School), hingga umur 12 tahun. Di sini antara lain Kartini belajar bahasa Belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah, karena adat pada waktu itu melarang seorang wanita untuk “melihat” dunia luar kecuali ia telah memiliki suami.[2]

Kemampuannya berbahasa Belanda, membuat Kartini belajar secara otodidak di rumah, dan mulai menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Ia sangat tertarik pada kemajuan berpikir wanita Eropa, yang didapatnya dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa. Kartini berkeinginan untuk memajukan perempuan Nusantara, yang saat itu masih berada mengalami diskriminasi.

Kartini menuliskan pemikiran-pemikirannya tentang realita sosial saat itu, khususnnya tentang kondisi perempuan pribumi. Sebagian besar surat-suratnya berisi keluhan dan gugatan khususnya menyangkut budaya di Jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan perempuan. Dia ingin wanita memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar.

Surat-surat Kartini juga berisi harapannya untuk memperoleh pertolongan dari luar. Pada perkenalan dengan Estelle "Stella" Zeehandelaar, Kartini mengungkap keinginan untuk menjadi seperti kaum muda Eropa.[3] Ia menggambarkan penderitaan perempuan Jawa akibat kungkungan adat, yaitu tidak bisa bebas duduk di bangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tak dikenal, dan harus bersedia dimadu.

Untungnya, pemikiran-pemikiran Kartini mendapat tanggapan dari R.M. Abendanon, salah seorang sahabat pena Kartini. Abendanon menerbitkan surat-surat Karini pada tahun 1911 dengan judul Door Duisternis tot Licht.[4]

Surat-surat Kartini banyak mengungkap tentang kendala-kendala yang harus dihadapi ketika bercita-cita menjadi perempuan Jawa yang lebih maju. Meski ayahnya tergolong berpikiran maju untuk saat itu, cita-cita Kartini untuk menjadi perempuan yang lebih maju pada jamannya masih terbentur dengan adat istiadat yang begitu kental.

Keinginan Kartini untuk melanjutkan studi, terutama ke Eropa, memang terungkap dalam surat-suratnya.[5] Ia menegaskannya, “Pergi ke Eropa! Sampai napas penghabisan hal itu akan tetap menjadi cita-cita saya.”[6] Beberapa sahabat penanya mendukung dan berupaya mewujudkan keinginan Kartini tersebut.

Ketika akhirnya Kartini membatalkan keinginan yang hampir terwujud tersebut, terungkap adanya kekecewaan dari sahabat-sahabatnya. Niat dan rencana untuk belajar ke Belanda tersebut akhirnya beralih ke Betawi saja setelah dinasihati oleh Nyonya Abendanon bahwa itulah yang terbaik bagi Kartini dan adiknya Rukmini.

Nasib berkata lain. Pada umur 25 tahun—sebuah usia yang relatif masih muda—Kartini harus menjumpai ajalnya setelah ia melahirkan anak pertama.[7] Cita-cita Kartini untuk bisa pergi ke Eropa, menikmati pendidikan seperti sahabat-sahabatnya, dan akhirnya kembali untuk memperjuangkan nasib wanita di Indonesia hanya bisa sebatas wacana dalam suratnya.  Namun upayanya memperjuangkan nasib wanita di Indonesia tetap abadi hingga saat ini. Pemerintah pun telah mengabadikannya sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1964.


[1] M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern 1200-2008, Jakarta, Serambi, 2008, hlm. 340
[2] R.A. Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang Door Duisternis Tot Licht, Yogyakarta, Penerbit Narasi, 2011, hlm. 9
[3] Ibid, hlm. 13
[4] Supra n.1, hlm. 340
[5] Supra n.2, hlm. 33
[6] Ibid.
[7] Aristides Katoppo, et.al, Satu Abad Kartini 1879-1979, Jakarta, Pustaka Sinar Harapan, 1990, hlm. 11

DAFTAR PUSTAKA
M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern 1200-2008, Jakarta, Serambi, 2008.

R.A. Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang Door Duisternis Tot Licht, Yogyakarta, Penerbit Narasi, 2011.

Aristides Katoppo, et.al, Satu Abad Kartini 1879-1979, Jakarta, Pustaka Sinar Harapan, 1990.

Mas Marco Kartodikromo: Karena Kata Adalah Senjata


Mas Marco Kartodikromo: Karena Kata Adalah Senjata
Oleh Tri Darma Yudha Pirhot Nababan[1]

Mas Marco Kartodikromo
Pers lazim diidentikkan sebagai The Fourth Estate dalam pranata masyarakat yang mengusung demokrasi. Kehadirannya menjadi faktor penting, yang menunjukkan bagaimana kebebasan berpendapat dieksekusi, sekaligus sebagai sarana kontrol terhadap penguasa. Dalam perkembangannya, pers dituntut untuk menghadirkan sikap yang obyektif, imparsial, dan independen.

Namun, berbeda dengan pers saat ini yang dituntut tidak berpihak, kuli tinta alias praktisi media di zaman pra-kemerdekaan justru memanfaatkan kekuatan pers untuk melawan kolonialisme Belanda. Pers justru secara gamblang memosisikan dirinya menjadi pembela kaum pribumi dari penindasan para londo. Keberpihakan ini dinyatakan secara tegas oleh Mas Marco Kartodikromo, salah satu pionir dalam dunia pers Indonesia.

Mas Marco Kartodikromo lahir tahun 1890 di Cepu. Ia berasal dari keluarga dengan strata sosial rendahan. Nasib membawanya bekerja di Nederlandsch-Indische Spoorweg (NIS – Dinas Kehutanan) Semarang pada tahun 1905, tempat yang  ia manfaatkan untuk belajar bahasa Belanda. Meski NIS adalah perusahaan kolonial, rasa nasionalisme Mas Marco justru semakin berkobar setelah enam tahun bekerja di sana.[2]

Rasa nasionalisme serta kemampuan berbahasa Belanda, mungkin menjadi faktor yang membawanya hijrah dari Semarang ke Bandung di tahun 1911. Penolakannya terhadap diskriminasi dalam dunia kerja, khususnya perbedaan antara londo dan inlander, membuatnya meninggalkan “karir” sebagia juru tulis, dan banting setir menjadi seorang jurnalis. Karir jurnalistik Mas Marco dimulai di Bandung, ketika ia bergabung dengan “Medan Prijaji” pimpinan Tirto Adhi Soeryo.[3]

“Medan Prijaji” adalah pers pertama yang dikelola, dimodali, dan dimiliki oleh bumiputera sendiri;[4] sekaligus menjadi surat kabar yang terbilang sukses di masanya. Tirto Adhi Soerjo, Bapak Pers Nasional, menggunakan “Medan Prijaji” sebagai alat propaganda untuk melawan pemerintah kolonial.

Sayangnya, Tirto, yang menggunakan inisial “TAS” dalam karya jurnalistiknya, ditangkap oleh Belanda dan dibuang ke Maluku. Belanda menggunakan haatzai artikelen akibat kecaman-kecaman yang diutarakan oleh Tirto. Penangkapan Tirto sedikit banyak berpengaruh pada Mas Marco yang pada saat itu sedang dalam proses meniti karir jurnalistiknya.

Akibat penangkapan Tirto dan pembreidelan “Medan Prijaji”, Mas Marco meneruskan petualangan hijrahnya memperjuangkan nasionalisme ke Solo. Di kota batik itu, ia bergabung dengan Saratomo, surat kabar milik Sarekat Islam. Di kota ini pula, Mas Marco mendirikan Indlandsche Journalistenbond yang memiliki publikasi dengan titel “Doenia Bergerak”, salah satu pionir asosiasi jurnalis di Nusantara.[5]

Perjuangan Mas Marco melawan pemerintah kolonial harus dibayar dengan seringnya ia berurusan dengan delik pers.[6] Vonis enam bulan penjara menjadi “hadiah” bagi Marco atas seruannya “Kita semua adalah manusia”, yang dimuat di “Doenia Bergerak”. Bahkan saat proses hukum sedang berlangsung, ia masih lantang berseru, “Saya berani bilang, selama kalian, rakyat Hindia, tidak punya keberanian, kalian akan terus diinjak-injak dan hanya menjadi seperempat manusia!”[7]

Perjuangan Mas Marco tidak dibatasi oleh dunia jurnalisme yang mengutamakan fakta dan opini, ia juga memiliki ketajaman dalam menyorot realita sosial di Hindia Belanda melalui karya-karya sastranya. Mas Marco menelurkan karya seperti Mata Gelap (1914), Student Hidjo (1918), Matahariah (1919), dan Rasa Merdika (1924), Ditambah lagi kumpulan sajak Sjair Rempah-rempah (1918), Cermin Buah Keroyalan (1924), dan sebuah naskah drama Kromo Bergerak (1924).[8] Beberapa karya sastranya menyiratkan sikap dan pandangan hidupnya yang sosialis-Marxis.

Ada tiga hal yang menjadi catatan atas karya-karya Mas Marco. Pertama, ia menyuarakan aspirasi yang pada masa itu dibungkam oleh pemerintah kolonial. Kedua, Marco menggunakan bahasa yang gamblang dan cukup keras. Ketiga, karya Marco menyampaikan kesadaran berbangsa untuk pribumi di Nusantara yang sekaligus mengecam keberadaan kolonialisme di Hindia-Belanda.[9]

Menggunakan kekuatan media untuk melawan kesewenang-wenangan, mungkin terdengar biasa pada masa kini. Twitter, Facebook, koran, media online, sudah jamak dipakai sebagai alat perjuangan. Perlu diingat juga, Arab Spring yang terjadi di Mesir, Aljazair, Libya, dan negara-negara disekitarnya, mendapatkan kekuatan lebih karena adanya media.

Tetapi di zaman pra-kemerdekaan yang dilalui oleh Mas Marco, penggunaan media sebagai alat perlawanan dapat dikatakan luar biasa. Saat itu, penduduk Nusantara masih sebatas memikirkan kepentingan perut ketimbang kemerdekaan. Namun Mas Marco mampu melampaui pemikiran di zamannya dengan berjuang melawan kolonialisme.

Saat warga pribumi sekedar melawan dengan menggunakan otot, Mas Marco melawan dengan intelektualitas dan penggunaan kata-kata. Bahkan, ia masih sempat menggunakan imajinasinya untuk menyorot realita sosial melalui novel-novelnya. Padahal, Mas Marco tidak berasal dari keluarga ningrat yang mengenyam pendidikan dan budaya baca-tulis ala londo. Ia menyadari pendidikannya yang pas-pasan, sehingga ia berusaha keras untuk bisa memiliki kemampuan yang sama seperti orang “sekolahan”.

Peran Mas Marco dalam perjuangan melawan kolonialisme patut diacungi jempol, meski dirinya acapkali dilupakan dalam pembahasan sejarah pra-kemerdekaan. Dari perjuangan Mas Marco pula, kita menyadari bahwa perlawanan melawan penindasan tak cukup dilakukan hanya dengan otot saja. Opini publik serta media yang dipakai Mas Marco menegaskan bahwa “Kata Adalah Senjata”.

Tabik!


[1] Peserta Sekolah Pemikiran Pendiri Bangsa Angkatan II, Alumnus FH Unpad, mahasiswa magister FHUI, jurnalis hukumonline.com
[2] Suara Merdeka, “Marco Kartodikromo: Jurnalis Yang Terlupakan”, http://www.suaramerdeka.com/harian/0802/10/nas11.htm, akses pada 10 Maret 2012, 10.30 WIB.
[3] Indo-Marxist, “Mas Marco Kartodikromo: Dengan Sastra, Ia Mengasah Pena”, http://indomarxist.tripod.com/masmarco.htm, akses pada 10 Maret 2012, 10.50 WIB
[4] Andi Suwirta, “Zaman Pergerakan, Pers, dan Nasionalisme di Indonesia”, dalam Andi Suwirta dan Abdul Razaq Ahmad, Sejarah dan Pendidikan Sejarah: Perspektif Malaysia dan Indonesia, UPI Press, Bandung, 2006, hlm. 84.
[5] Supra n.2
[6] Abdurrachman Surjomihardjo, Beberapa Segi Perkembangan Sejarah Pers di Indonesia, Jakarta, Penerbit Kompas, 2002, hlm. 195.
[7] Supra n.3
[8] Jakarta.go.id, “Mas Marco Kartodikromo”, http://www.jakarta.go.id/web/encyclopedia/detail/1855/Mas-Marco-Kartodikromo, akses pada 10 Maret 2012, 00.19 WIB
[9] Harjito dan Faruk, “Feodalisme dalam Student Hijo Karya Marco Kartodikromo”, Jurnal Sosiohumanika, Program Studi Sastra Pascasarjana UGM, September 2012, hlm. 531-532.

DAFTAR PUSTAKA

Buku
Abdurrachman Surjomihardjo, Beberapa Segi Perkembangan Sejarah Pers di Indonesia, Jakarta, Penerbit Kompas, 2002.

Andi Suwirta dan Abdul Razaq Ahmad, Sejarah dan Pendidikan Sejarah: Perspektif Malaysia dan Indonesia, UPI Press, Bandung, 2006.

Karya Ilmiah
Harjito dan Faruk, “Feodalisme dalam Student Hijo Karya Marco Kartodikromo”, Jurnal Sosiohumanika, Program Studi Sastra Pascasarjana UGM, September 2012.

Internet

Friday, March 02, 2012

Pemikiran Pendiri Bangsa

Dalam entri terakhir tertanggal 29 Februari 2012, saya menulis tentang konsep negara integralistik yang diutarakan Soepomo, ketika beliau sedang berpidato di depan rapat BPUPKI. Cukup aneh memang, karena sebelumnya saya tidak pernah benar-benar menggali butir pemikiran dari tokoh-tokoh yang dikenal sebagai "pendiri bangsa".

Sebenarnya, tulisan itu dibuat sebagai prasyarat untuk mengikuti seleksi Sekolah Pemikiran Pendiri Bangsa (SPPB) Angkatan II, yang diselenggarakan oleh Megawati Institute. Seleksi ini mengharuskan calon kandidat menulis tentang pemikiran salah satu tokoh yang sudah ditentukan oleh Megawati Institute. Kebetulan, semasa Semester 1 di Pascasarjana FHUI, saya "beruntung" mendapatkan mata kuliah Politik Hukum, yang sempat membahas tentang Soepomo; dan kebetulan pula, Megawati Institute menempatkan Soepomo sebagai salah satu tokoh yang akan dikaji.

Proses seleksi telah dilewati, dan saya terpilih sebagai salah satu peserta di SPPB. Pada kelas perdana kemarin, Kamis (1/3), peserta harus membuat tugas paper/makalah mengenai pemikiran tokoh yang akan dikaji sebelum kelas selanjutnya dimulai. Karena waktu cukup mepet, pemikiran Mas Marco Kartodikromo, akan diulas oleh peserta bersamaan dengan kewajiban untuk memberikan tulisan mengenai RA Kartini, pada tanggal 12 Maret 2012 nanti.

Mengingat saya akan rutin membuat tulisan mengenai pemikiran pendiri bangsa selama beberapa bulan ke depan hingga selesainya SPPB, saya mengenalkan kategori terbaru, yaitu "Pendiri Bangsa". Berikut nama-nama yang ditentukan oleh SPPB untuk dikaji:

1. Mas Marco
2. R.A. Kartini
3. Tan Malaka
4. H.O.S. Tjokroaminoto
5. Ki Hadjar Dewantara
6. Tjipto Mangoenkoesoemo
7. H. Agus Salim
8. Soekarno
9. M. Hatta
10. Sutan Syahrir
11. Mohammad Natsir
12. Maria Ulfa
13. S.K. Trimurti
14. Soepomo

Tabik!